BRANGOL.NGAWIKAB.ID- Manusia merupakan makhluk ciptakan Tuhan yang dibekali akal dan kreatifitas. Tapi, mungkin tak banyak orang yang mampu mengolah potensi besar dalam dirinya itu. Padahal, ujung tombak kesuksesan seseorang bisa diukur dari kreatifitasnya.

Bercerita tentang kreatifitas, berawal saat saya lagi ngobrol di warung Cak Tomo, Ketua RT06 / RW01Dusun Puntuk, Desa Brangol, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi,  melihat sebuah miniatur becak klasik dari bahan bambu. Yang membuat saya takjub ternyata itu bikinan pemuda samping rumah Cak Tomo,  yang bisa dibilang sangat kreatif.

Mad Kipli dengan hasil karyanya

Nova Kipli (25), begitulah orang di kampung itu menyapanya. Kreatifitasnya patut diacungi jempol. Remaja berperawakan kecil ini cukup piawai mengolah hal kecil menjadi sebuah barang yang bermanfaat. Pemuda ini bisa menyulap Irat bambu menjadi miniatur becak klasik‎.

Tangan dinginnya, mampu memanfaatkan limbah bambu menjadi sebuah karya seni berupa miniatur becak klasik yang sangat artistik. Uniknya, kemampuannya membuat miniatur becak ini muncul secara otodidak

Kipli mengaku, awal mulanya dia hanya coba-coba membuat miniatur becak karena terinsiparsi setelah melihat tayangan video di laman youtube. Setelah beberapa kali melihat video tersebut, kemudian muncul niat membuat karya seni serupa. Tidak cuma Becak Klasik, masih banyak koleksi koleksinya, seperti Perahu layar, Mobil klasik, dan karena dia seorang penggemar vespa,  Motor jenis vespa, menjadi karya pertamanya.

“Awalnya sih cuma nyoba-nyoba saja,” ujar remaja yang kini bekerja sebagai tenaga harian lepas (THL) di lingkungan Pasar Kedungprahu, Sabtu (15/02/2020).

Dia menjelaskan, ‎pembuatan miniatur becak klasik ini dilakukan di waktu senggang sepulang dirinya bekerja‎. Aktivitas barunya ini telah berlangsung sejak awal 2018 semenjak memeliki anak, dengan maksud membuatkan mainan anaknya yang ramah lingkungan. Hasil karyanya ini, semuanya dia lakukan seorang diri.

Dia pun sedikit bercerita soal ‎bahan baku yang digunakan untuk membuat miniatur barang barang klasik ini. Yakni, cuma dari bambu, Semuanya itu di dapatkan di sekitar rumahnya yang sudah terbuang.

Miniatur lokomotif dari bambu karya Mad kipli

“Jadi, bahan-bahannya dari bambu. Sengaja saya tidak membuangnnya, karena masih bisa dimanfaatkan,” kata pemuda lulusan SMK Ngawi ini menjelaskan.

Dia kembali menjelaskan, dalam membuat satu miniatur barang klasik itu, dirinya membutuhkan waktu 4-7 hari. Itupun tergantung dari ukuran dan kerumitan miniatur barang yang akan dibuatnya itu.

“Yang memakan waktu cukup lama itu, kalau membuat miniatur barang dengan bahan bambu berukuran kecil dan tipis. Karena gampang patah” kata dia.

Miniatur Becak Bambu Klasik karya Mad kipli

Selama tiga bulan terakhir ini pun, tambah dia, dirinya hanya baru bisa menyelesaikan tidak lebih dari 8 unit miniatur barang klasik. Itupun, hasil karyanya ini baru selesai 90 persen. Karena, menurutnya, masih ada tahap akhir yang harus dikerjakan, yakni tahap pemlituran.

“Sejauh ini belum kepikiran ke arah ‎dijual. Soalnya, masih tahap coba-coba dan untuk mainan anak saya,” tambah dia.

Miniatur Perahu dari bambu karya Mad Kipli

Nyono (57), Bapak Nova menuturkan, baru menyadari anaknya ini memiliki bakat seni, setelah melihat banyaknya hasil karyanya. Namun, keterampilan itu hanya untuk mainan anaknya dan tidak di jual.

” Lha nggih kulo jian gumun kalih anak kulo, kok kreatif damelne mainan putrane, Saya harap bisa berkembang terus dan laku di jual kersane damel nambah penghasilan” ujar dia dengan logat jawanya yang sangat terkesan dengan hasil karya anaknya itu.

Dia menginginkan keterampilan anaknya ini bisa terus berkembang. Bisa membuat miniatur barang2 klasik yang bernilai ekonomis nantinya. Selain itu, bisa juga menjadi tambahan penghasilan keluarga. (Masabas)

Share and Enjoy !

Shares