BRANGOL.NGAWIKAB.ID – Pandemi Covid-19 tak berpengaruh banyak dengan usaha budidaya jamur merang. Bahkan, mengalami peningkatan order dan kewalahan melayani pesanan. Salah satunya yang dialami Sugeng Pranoto, 36 tahun, petani jamur merang Desa Brangol, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi, Kamis (01/10/2020).

Sugeng Pranoto bersama rumah kumbungnya untuk budidaya Jamur Merang (dok.des.id)

Sugeng Pranoto mengungkapkan, disaat bisnis lain mengalami kacau dan kolaps bahkan cenderung gulung tikar akibat pandemi covid-19, bisnis jamur merang yang dia geluti sejak dua tahun ini justru banjir pesanan.
“Situasi saat ini saya justru bersyukur karena pandemi Covid-19 ini tidak ada pengaruhnya. Justru permintaan meningkat,” tutur Sugeng Pranoto.

BACA JUGA : PPS BRANGOL GELAR SOSIALISASI PEMILIHAN BUPATI DAN WAKIL BUPATI NGAWI TAHUN 2020

Sudah dua tahun, dia menggeluti budidaya dan bisnis jamur merang. Karena bahan baku jerami padi di desa banyak dan bambu juga punya sendiri alasan Sugeng mencoba untuk mendirikan kumbung sederhana tempat budidaya jamur. Dengan modal Rp 12 juta, dia bisa mendirikan 1 kumbung jamur sederhana dengan 4 tingkat.

Membersihkan Jamur merang sebelum di kemas (dok.des.id)

“Awalnya uji coba saja. Ya, hasilnya lumayanlah,” katanya merendah. Ketika awal memulai budidaya ini, hasilnya terbilang minim. Dalam sehari, terkadang dia hanya bisa panen 3 kilogram jamur merang. Kemudian, dia mempelajari kekurangan budidaya itu, semisal kualitas jerami sebagai media tempat pembiakan jamur merang.

Sugeng Pranoto memanen Jamur Merang di dalam rumah kumbung (dok.des.id)

“Sekarang sudah sampai 5-10 kilogram dalam sehari. Bisa panen tiap hari selama sebulan lebih,” katanya. Untuk harga jual, Sugeng mematok harga Rp 35.000-Rp 45.000 per kilogram. Semakin jauh jamur yang dikirim, semakin mahal harga jual. Itu dikarenakan butuh biaya transportasi.

BACA JUGA : Desa Brangol Gelar Musrenbang Desa Tahun 2021

Saat ini, dia sudah mempunyai dua kumbung dan belum bisa menambah kumbung miliknya. Minimal punya 3 kumbung menurutnya, sehingga bisa menghasilkan sekitar 20 kilogram per hari. Dalam jangka panjang, dia ingin membudidayakan jamur secara lebih luas. Agar hasil panen bisa maksimal dan memenuhi pasar di Ngawi.

Jamur Merang di dalam Kumbung (dok.des.id)

Kendala pengembangan jamur merang butuh modal besar, termasuk tenaga kerja, kalau kecil begini, saya bisa urus sendiri,Dalam sebulan panen bisa dapat Rp 5-8 juta, dari modal Rp 12 juta setahun yang lalu sudah kembali modal, dan bisa nambah satu kumbung, biaya tenaga kerja tidak saya hitung, karena saya kerja sendiri di bantu istri” sebutnya. (cr)

BACA JUGA : Lomba Website Desa 2020 Dinas Kominfo Ngawi

Share and Enjoy !

Shares