BRANGOL.NGAWIKAB.ID – Para petani padi di Ngawi mulai resah dan berharap pemerintah turun tangan menjaga dan mengendalikan harga gabah hasil panen agar tetap stabil. Pasalnya, jelang panen raya pertengahan Maret ini harga gabah tengah anjlok. Mereka pun terancam tidak bisa menikmati harga tinggi seperti beberapa bulan lalu.

Sebelumnya harga gabah kering di tingkat petani Rp 4,5 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram. Jelang panen raya pertengahan bulan ini, harga gabah kering anjlok menjadi Rp 3,5 ribu hingga Rp 4 ribu per kilogramnya.

Seperti yang di alami Sutrisno, petani di Dusun Puntuk, Desa Brangol, Kecamatan Karangjati terlihat sedang memanen padi di lahan sawah seluas satu hektare di dekat Makam dusun Puntuk. Ia mengungkapkan, para petani padi harus bersiap gigit jari di musim panen tahun ini.

“Harganya murah. Tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan saat penanaman, terus gimana nanti biaya untuk penanaman musim kedua” katanya.

Hasil panen padi di lahan sawahnya tidak maksimal. Satu hektare lahan itu hanya mampu menghasilkan gabah sebanyak 4 ton. Padahal kalau normal satu hektare lahan sawah itu mampu menghasilkan 7-8 ton gabah.

“Sudah harganya murah, Hasil panen padi kali ini juga jeblok. Sebab, padi diserang hama potong leher,” ujarnya.

Dengan murahnya harga gabah, Sutrisno mengaku harus bersiap merugi hingga jutaan rupiah. Dia lantas memerinci biaya yang dikeluarkan untuk biaya tanam, biaya pupuk yang tinggi dan belum termasuk ongkos tenaga yang melakukan perawatan tanaman.

Kegelisahan yang dirasakan Sutrisno karena panen padi lebih awal membuat petani lainnya yang belum panen menjadi resah. Petani berharap pemerintah bisa campur tangan untuk mengatasi anjloknya harga tersebut. Para petani tidak berharap yang muluk-muluk. Melainkan hanya meminta agar harga jual gabah sebanding dengan jumlah modal yang dikeluarkan saat penanaman. Sehingga mereka bisa memiliki modal untuk menanam kembali.

BACA JUGA :

Share and Enjoy !

Shares