BRANGOL.NGAWIKAB.ID – Budaya gotong royong dan rasa sosial masyarakat Desa Brangol, Kecamatan Karangjati dalam menolong warga yang baru saja mengalami musibah meninggal dunia sangatlah bernilai positif dan perlu dilestarikan.


Semua aktivitas yang mendukung agenda rukun kematian tersebut, mulai dari membersihkan halaman, memasang tenda, menata kursi, serta dalam upacara pemakaman, mulai dari proses penyebaran berita duka, mempersiapkan tempat dan ubo rampe untuk memandikan jenazah, mengkafani, mensholati, upacara pemakaman jenazah, dan terakhir menguburkan jenazah, semuanya dilakukan oleh masyarakat Desa Brangol secara guyub rukun dan tanpa terbesit menerima imbalan apapun.

Hal ini terlihat dalam upacara pemakaman di malam hari Almarhum Mbah Nyanem (89) warga Dusun Puntuk, yang meninggal pukul 18:30 WIB. Kamis (01/04)


Walaupun dilaksanakan pada malam hari, masyarakat tampak kompak dan siap dengan guyub rukun. Dilokasi pemakaman masyarakat saling bergotong royong menggali liang kubur dan menyiapkan segala sesuatunya secara sukarela tanpa adanya komando
Kasi Pelayanan yang juga Modin Desa Brangol, Teguh Dwi Prasetyo, S.Pd.I, mengatakan bahwa tradisi Gotong Royong ini mari dipelihara dan ditingkatkan lagi.


“Alhamdulillah tradisi saling perduli dalam ikatan silaturahmi untuk saling bahu-membahu bergotong royong masih kita jaga dan kita jalankan serta akan terus kita tingkatkan.” terang Teguh yang akrab dipanggil Mbah Modin.

Baca juga : Paguyuban PTM Desa Brangol Tetap Laksanakan Dengan Protokol Kesehatan

Ada satu hal yang menarik di dalam tradisi upacara pemakaman di Desa Brangol. Yaitu dalam menyiapkan air untuk memandikan jenazah diberi daun kelor untuk menghilangkan energi negatif jenasah. Serta masih adanya tradisi kenduri sur tanah sebelum prosesi pemakaman jenazah selesai.
Selanjutnya, pada malam harinya di adakan do’a bersama yang biasa disebut tahlilan, kegiatan ini bertujuan untuk membantu mendo’akan keluarga ahli waris yang baru saja ditinggal salah satu anggota keluarganya. Tradisi tahlilan dan kirim doa dilakukan dalam tujuh hari penuh, kemudian empat puluh hari, seratus hari, setahun, dua tahun dan tiga tahun atau seribu hari.


Budaya tahlilan perlu di apresiasi sebagai bagian dari budaya guyub rukun warga masyarakat Desa Brangol dan budaya toleransi bagi warga masyarakat yang tidak melakukan tradisi tahlilan ini. Perbedaan bukanlah untuk diperdebatkan akan tetapi sebagai rohmatan lil’aalamiin. Semoga Desa Brangol tetap Guyub rukun untuk selamanya.

Baca juga : MENGHORMATI LELUHUR, MASYARAKAT BRANGOL GOTONG ROYONG MENDIRIKAN RUMAH DI SENDANG PUNTUK

Share and Enjoy !

Shares